Assalamu'alaikum Wr. Wb. Selamat datang di website Badko Rayon TKA-TPA Kec. Tempel
Sekretariat : BMT Mitra Usaha Mulia Tempel Sleman Telp. (0274) 865403 Email : badkotempel@gmail.com
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan" (Tahrim 66:6)

Kamis, 12 Juli 2012

Wikan ing sangkan paran

Wikan ing sangkan paran
oleh Bapake Dzaky pada 30 Oktober 2011 pukul 11:03 ·

"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian, Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik". (QS al-Mu'min [23]: 12-14).


Dari ayat di atas dapat diketahui bahwa manusia berasal dari tanah dan dari Alloh SWT. Berasal dari tanah karena manusia bisa terbentuk dengan sempurna dan bisa muncul dimuka bumi ini karena gizi yang dikonsumsinya baik melalui ibunya saat dalam kandungan maupun langsung setelah lahir. Sedangkan gizi berasal dari tanah yang menumbuhkan tanaman yang dimakan manusia dan binatang. Yang dari Alloh adalah jiwa dan ruh. Antara jiwa dan ruh tidak sama. Jiwa adalah fitrah Alloh SWT untuk manusia, binatang dan tumbuhan yang berguna untuk kelangsungan hidupnya seperti ketertarikan untuk berkembangbiak, rasa sakit, rasa senang, serta seluruh kehidupan batin. Komponen jiwa adalah nafsu (sahwat, emosi), hasrat(keinginan, ego), aqal dan qolbu. Dalam jiwa inilah semua memori semenjak lahir sampai meninggal terrekam tanpa luput sedikitpun. Baik itu data kejahatan maupun data kebaikan. Sedangkan ruh asalnya dari Alloh yang berguna untuk mengajak jiwa ke jalan yang di ridhoi Sang Pemilik Ruh, Alloh SWT.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (QS. Al-A’raf : 172)

Dari ayat di atas dapat diyakini kalau semua manusia sebelum hidup di dunia telah bersaksi bahwa "tidak ada Ilah yang patut disembah, yang patut di taati, selain Alloh SWT, dan mengakui bahwa Muhammad SAW adalah utusan Alloh". Dalam kesaksian tersebut terkandung suatu kemurnian ciptaan yang disebut fitrah. Fitrah yang tunduk dan pasrah pada ketentuan, perintah, dan larangan dari Alloh SWT juga fitrah untuk mengetahui dan mendambakan kebaikan dan fitrah untuk menolak keburukan. Namun kita selama ini belum pernah sekalipun merasakan apa yang telah kita lakukan tersebut dalam ayat di atas.

Saat kita dilahirkan oleh ibu kita dalam keadaan yang fitrah tersebut hanya bisa menangis, belum bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk, manakah yang fitrah manakah yang bukan fitrah. Bahkan jika kita tidak ada campur tangan orang lain (orang tua yang mengurus, mendidik, mencontohkan), maka kita akan tersesat.
Oleh karena itu peran orang tua sebagai penjaga fitrah anak harus senantiasa ditunaikan, agar supaya saat anak dewasa tetap menjaga keadaan yang fitrah, dapat mewariskan fitrah Alloh pada anak cucunya, dan senantiasa bisa membimbing orang lain termasuk orang tuanya untuk mengantarkannya ke kalimat terakhir yang fitrah.
Dari Mu'az r.a., katanya: " Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang akhir percakapannya Laa ilaaha illallaah, maka ia akan masuk surga”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud serta Hakim dan Hakim mengatakan bahwa ini adalah shahih isnadnya.
[Riyadus Salikhin 2, hal. 70]

Pendidikan bagi buah hati orang tua sangatlah penting bagi masa depannya. Walaupun orang tua tidak bisa memasukkan buah hatinya ke jejang pendidikan yang tinggi, namun pendidikan tetaplah perlu buat anak-anaknya. Karena pendidikan yang wajib ditunaikan orang tua kepada buah hatinya adalah pendidikan untuk menuju kesuksesan masa depan yang abadi. Belumlah sukses jika buah hati orang tua menyandang gelar atau jabatan yang tertinggi, atau mengumpulkan kekayaan terbanyak. Mungkin itu semua hanyalah jalan menuju ke Kesuksesan Sejati. Atau bahkan, bisa jadi, itu semua malah menjadi penghalang Kesuksesan Sejati. Semua kesuksesan itu tak sepenting nilai ketaqwaan.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS 3:185)

Pendidikan terbaik bagi buah hati yang pertama adalah Keteladanan atau Qudwah, yang kedua adalah dengan Pembiasaan atau Aadah, yang ketiga adalah melalui Pemberian Nasehat atau Mau’izhoh, yang keempat dengan melaksanakan Mekanisme Kontrol atau Mulahazhoh, sedangkan yang terakhir dan merupakan pengaman hasil pendidikan adalah Metode Pendidikan melalui Sistem sangsi atau Uqubah.

Jadi orang tua yang hanya banyak omong, banyak perintah, banyak menuntut adalah orang tua yang egois, Karena nasehat peringkatnya dibawah Keteladanan dan Pembiasaan. Sebenarnya tanpa disadari, anak itu akan mewarisi Kebiasaan orang tuanya. Mana mungkin anak disiplin dalam melaksanakan perintah sholat kalau orang tuanya malas-malasan melaksanakannya! Mana mungkin anak lebih suka belajar dari pada nonton televisi kalau orang tuanya selalu nonton televisi pada saat-saat jam belajar! Untuk itu orang tua selayaknya memberikan keteladanan pada anak cucunya dengan senantiasa membiasakan kebaikan. Sebelum menasehati, memerintah, dan menuntut pada anak, seyogyanya memberi teladan dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik.

Selanjutnya, setidak-tidaknya ada 7 bidang dalam pendidikan anak. Ketujuh Bidang Tarbiyah Islamiyah tersebut adalah: (1) Pendidikan Keimanan (2) Pendidikan Akhlaq (3) Pendidikan Fikroh/ Pemikiran (4) Pendidikan Fisik (5) Pendidikan Sosial (6) Pendidikan Kejiwaan/ Kepribadian (7) Pendidikan Kejenisan (sexual education). Hendaknya semua kita pelajari dan ajarkan kepada mereka.

Maka dari itu kepada orang tua, antarkanlah buah hati anda agar Selamat aqidahnya, Benar ibadahnya, Kokoh akhlaqnya, Mempunyai kemampuan untuk mempunyai penghasilan, Jernih pemahamannya, Kuat jasmaninya, Dapat melawan hawa nafsunya sendiri, Teratur urusan-urusannya, Dapat menjaga waktu, Berguna bagi orang lain dengan suri tauladan, pembiasaan, nasehat, kontrol dan sangsi.

Metode pendidikan untuk anak dibawah 7 tahun menurut Ali bin Abithalib ra adalah dengan bermain, penanaman kedisiplinan untuk usia 7 - 14 tahun, dan dengan diskusi/kemitraan untuk anak usia diatas 14 tahun.

Apabila tahapan-tahapan, cakupan dan metode tersebut di atas dijalankan, insya Alloh anak akan menjadi insan yang sangat peduli pada fitrah manusia, menjadi pribadi yang bersih hati nuraninya, serta terpancar kebaikannya. Dalam perjalanannya mengarungi kehidupan dunia senantiasa berbuat kebaikan dan menolak keburukan. Dalam pemenuhan kebutuhan hidup di dunia tetap memperhatikan rambu-rambu yang ditentukan Alloh dan Rasulnya. Pada akhirnya Dia siap menyambut datangnya tamu yang tidak diundang tapi pasti datang, dengan tersenyum senang karena selalu dalam keadaan fitrah, jiwanya dalam keadaan bersih bersinar terang dan tenang dan yakin akan panggilah sayang dari Tuhannya yang meridhoi dirinya sebagai hambaNya serta mempersilahkan dirinya masuk ke dalam SurgaNya.

"Ya ayyatuhannafsul muthmainnah, irji'i ila robbiki rodziyatammardziyyatan fadkhuli fi'ibadi wadkhuli jannati "(Wahai jiwa yang tenang, masuklah dengan ridlo lagi diridloi, masuklah sebagai hambaKU, dan masuklah ke dalam surgaKU) QS. 89:27-30.

Read this | Baca yang ini



Widget by [ Tips Blogger ]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar